Minggu, 18 Desember 2016

surat untuk pak naka :) Assalamualaikum Wr.Wb Selamat malam juga dosenku mata kuliah penulisan media masa Bapak Setia Naka Andrian yang tidak pernah kehabisan ide dalam menggoreskan karya-karyanya atau pun memberikan sejuta manfaat yaitu setumpuk tugas untuk mahasiswa-mahasiswanya. Alhamdulillah hari-hari saya berjalan lancar pak, meskipun ada bebeapa kendala seperti di hantui berbagai tugas yang terus mengikuti dan berkecamuk agar segera saya seleseikan. Saya membalas surat dari Bapak Naka dalam keadaan lelah setelah pulang kuliah. Namun entah mengapa rangkaian kata-kata yang ada di dalam surat bapak membuat saya sumriah entah karena kata-katanya yang lucu atau karena memang pak Naka juga yang lucu.heheh. Didalam surat ini saya akan berterus terang terang dengan pertanyaan-pertanyaan yang Bapak sampaikan . Begini Bapak bukannya saya pandai menutup-nutupi segala kekurangan ataupun mengurangi segala kelebihan yang pertama dipengearuhi faktor yang paling besar adalah malas, capek dan belum ada motivasi atau greget untuk membaca walaupun berbagai tulisan yang saya baca sering dikatakan kalau mahasiswa itu dibedakan dengan 1. Budaya Membaca, 2. Budaya Menulis dan yang terakhir adalah Buadaya Aksi atau berani menentang yang salah namun saya belum bisa menerapkan dalam kehidupan saya. Saya masih melakukan membaca sebagai hiburan saja. Malas bicara sebenarnya mungkin bukan malas , tetapi ada banyak kendala seperti sulit merangkai kalimat untuk dikemukakan, lalu malu, kurang percaya diri, dan takut salah sudah down terlebih dahulu. Didalam surat ini juga saya ingin meminta tips ataupun cara Kepada Bapak, supaya faktor atau kendala-kendala di atas bisa dihilangkan atau setidaknya bisa berkurang. Apa perlu dengan latihan apa saja mohon di jawab ya Pak? Dan bagaimana agar saya dapat menulis esay atau puisi yang setidaknya layak dibaca dan bernilai atau pun bermanfaat. Terima kasih. Selanjutnya saya pribadi sangat berterima kasih kepada Bapak . Karena selalu memaksa untuk membaca, membeli buku, membaca koran yang tentunnya mempunyai manfaat dan kebaikan untuk saya dikemudian hari. Bapak juga tidak pernah bosan memberi tugas yang berkejubun yang jujur membuat saya sendiri sering mengeluh apalagi diberi batasan esai minimal 5000 karakter. Sungguh menyebalkan namun saya juga sadar itu demi kebaikan kami semua namun kami tidak tahu diri khususnya saya. Padahal Bapak sudah semaksimal mungkin supaya saya dan teman-teman mampu menulis dan mempunyai budaya membaca serta mau berbicara atau berpendapat dihadapan Bapak Naka. Terima kasih Bapak Naka . Anda adalah sosok dosen yang baik hati, tidak sombong dan suka menolong. Pak Naka saya sadari saya belum mengetahui atau paham atas diri saya sendiri . Saya masih bingung sebenarnya apa potensi yang ada dalam diri saya . Saya suka membaca, saya senang menulis puisi ataupun crita namun mungkin saya sadari saya belum serius dan karena faktor malas yang menghantui. Jujur saya ingin seperti Bapak . Aktif , rajin menulis, pandai membuat puisi dan cerpen serta aktif berorganisasi. Jika Bapak bertanya beberapa buku yang saya baca saya lupa. Namun bulan-bulan ini saya katakan saya sangat jarang membaca. Novel hanya novel dengan Judul Sempurn yang saya pinjam dari kaka tingkat saya. Lalu saya juga membaca buku Wira Nagara dengan judul “Distilasi Alkena” yang saya beli di gramedia. Namun saya banyak belajar di UKM yang baru saya ikuti yaitu vokal dan Organisasi eksternal yang program kerja nya setiap minggu kita berdiskusi mengenai buku atau pun film. Seperti malam kemarin kita berdiskusi buku dengan judul “Budaya Pesantren” yang bertempat di kolong perpus di temani UKM teakwondo yang sedang latihan di samping tempat kami berdiskusi. Mungkin cukup sekian curhatan yang dapat saya sampaikan kepada Bapak. Apabila ada kata yang tidak berkenan saya mohon maaf. Wasalamuaiakum Wr.WB Aulia Rahma Oktafiani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar