Minggu, 18 Desember 2016

Apatis atau Aktifis, Sumpah Pemuda Semakin Krisis Aulia Rahmah Oktafiani/15410145/3D Pertunjukan yang dipersembahkan lagi oleh teater gema dengan menggandeng UKM dan Ormawa-lemawa lainnya pada tanggal 28 Oktober 2016, bertempat di Halaman Gedung Utama Universitas PGRI Semarang dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pertunjukan dibagi menjadi dua sesi yang pertama adalah pertujukan parede orasi dari mahasiswa mengenai sumpah Pemuda dan harapan-harapannya untuk mahasiswa kedepannya dibarengi dengan beberapa mahasiswa yang memainkan Tablo yang menggambarkan tentang Sumpah Pemuda. Menengok sejarah Sumpah Pemuda memiliki arti yang sangat penting . Pada tanggal 28 Oktober 1928 ketika negara Indonesia masih menggunakan kesukuan dan kedaerahan maka Sumpah Pemuda yang diikrankan pada saat itu berhasil menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme serta yang terpenting adalah menyatukan bangsa Indonesia yang berbeda-beda namun tetap sama (Bhineka Tunggal Ika) dari Sumpah Pemuda sebagai tonggak dan pondasi lahirnya Indonesia. bertumpah darah satu,berbangsa satu dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Dengan berkembangan zaman dan arus globlalisasi muncul masalah yang rumit dengan lahirnya para mahasiswa yang apatis. Selain itu juga lahir mahasiwa aktifis tetapi bukan seperti para pemuda dulu yang turu kejalan tetapi mempunyai solusi masalah tidak seperti sekarang yang hanya bisa memaki tanpa memberi polusi. Mahasiswa adalah sayap kanan bangsa ,penggerak perubahan Indonesia . Pada awal Indonesia mengalami inflasi para pemuda lah yang berani turun ke jalan menyapaikan ansipirasi rakyat mereka para perindu kemenangan dan kesejahteraan. Namun yang sangat disayangkan adalah tingkat mahasiswa apatis atau lebih sering di sebut kupu-kupu lebih banyak di banding mahasiswa yang masih peduli atau aktif terhadap negara. Contohnya mereka lebih suka dengan dunia globlalisasi seperti belanja di banding membeli buku . Mencari informasi membuat karya karena mahasiswa di bedakan karena tiga hal yaitu membaca, menulis dan berani aktif bukan hanya berfoya-foya mengahabiskan uang saku dari orang tua dengan hal yang tidak bermakna dan tidak ada manfaatnya. Sumpah pemuda sebagai pemersatu bangsa tampaknya sudah mulai krisis dan terkikis dengan terjadinya bentrokan atau perang dingin antar organisasi kecil atau bermain hal yang tidak sehat, atau antar kampus bahkan antar agama padahal mereka telah bersumpah bahwa tanah air satu, bersumpah darah satu dan berabahasa satu namun sumpahnya tidak bisa di buktikan. Sesi kedua adalah parede budaya dari UKM Teater Gema dengan hal kreatifitasnya yang menarik. Dari contoh tersebut kita sebagai mahasiwa harus mencontoh kepada para aktifis kampus yang mendominasi hal positif dengan merayakan dan menghormati perjuangan sejarah pemuda Indonesia. Dari hal ini dapat membantu membentuk karakter para pemuda dengan dibiasakan hal positif dan akan masuk dunia pers pun bukan hal negatif yang di terbitkan. Selain itu dapat mengembalikan hal seharusnya yang ditetapkan atau kriteria sesungguhnya seorang mahasiswa. Seorang siswa dengan tingkat tertinggi yang mampu membawa perubahan. Pada saat sesi kedua yang di mulai puku 19:00 juga tampil beberapa UKM seperti UKM Gisma Choir yang bernyanyi dengan kolaborasi UKM Immortal Universitas PGRI Semarang benar-benar penampilan yang indah dan memukau. Halaman Gedung Utama seakan dibanjiri penonton yang ingin menyaksikan malam puncak Hari Sumpah Pemuda. Selain itu Universitas PGRI semarang juga dalam rangka acara puncak perayaan Bulan Bahasa Universitas PGRI Semarang dengan penampilan tari kreasi yang dikuti oleh 28 peserta dari fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni . Hal itu merupakan pembentukan karakter dan suntikan identitas mengenai seni budaya Indonesia agar mereka tidak lupa dengan warisan bangsa walaupun tetap mengikuti arus zaman. Dengan adannya kebiasaan positif yang diberikan kepada pemuda merupakan pembelajaran agar mereka siap mengahadapi persoalan-persoalan yang di hadapi bangsa ini. Membenarkan hal-hal yang masih salah dalam seperti KKN (korupsi,kolusi, dan nepotisme) dengan aksi turun kejalan menyampaikan aspirasinya. Kembali membuktikan sumpahnya mengenang ,memahami makna yang terkandung dalam ikrar sumpah pemuda. Ketika para pemuda membuang egonya , bersatu demi bangsa dan negaranya. Indonesia adalah negara dengan perkembangan pemudanya yang sangat baik. Sudah semestinya tugas pemuda untuk menjadi agen sosial, penerus,pengontrol dan hal apa saja yang ada di bangsa ini. Sehingga bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan kembali dipuja-puja bangsa lain. Seperti pada liri lagu tanah air beta. “selalu dipuja-puja bangsa”. Menguntip kalimat dari Bapak presiden kita , kata-kata yang sangat bijak untuk motivasi pemuda-pemuda bangsa ini “ Perjuanganmu jauh lebih berat, perjuanganku melawan penjajah ,sedangkan perjuanganmu melawan bangsamu sendiri” dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa bangsa ini membutuhkan pemuda-pemuda yang berkarakter,berkomitmen dengan janji dan sumpahnya. Aulia Rahma Oktafiani, Mahsiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang. Pencinta,Perindu,dan Penikmat Senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar