Minggu, 18 Desember 2016

Aspirasi-aspirasi di Balik Pementasan Lawak Teater dan Sebuah Monolog Aulia Rahmah Oktafiani/3D/15410145 Selasa04/10/2016 Pementasan yang di persambahkan oleh Teataer Gema UPGRIS dengan djudul Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah di Gedung Pusat Lantai 7. Dari pementasa tersebut bukan hanya mampu menghibur penonton tapi membuat penonton takjub dengan keberhasilan pemain mengusai naskah drama ataupun monolog. Menurut saya Teater Gema adalah UKM yang sangat maju di Universitas PGRI Semarang . Tidak hanya eksistensi dalam acara kampus tapi mereka juga selalu mengadirkan karya-karya yang perlu di acungi jempol. Teater yang di tayangkan pun memiliki ciri khas yang berbeda-beda . Pantas saja jika penikmatnya selalu bertambah. Seperti pementasan kali dengan djudul Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah. Di awali dengan seorang ayah yang tidur di depan rumah dan terbangun sambil memangil nama anaknya dan belum siap untuk berpisah. Selanjutnya kembali ke cerita awal tentang Jaka Tarub yang bermimpi menikahi bidadari dan bercerita kepada Kang Bowo. Dalam sesi ini Kang Bowo memberikan motivasi yang terkandung dalam drama tersebut adalah “Menatap Masa Depan Kaki yang Tegap Kita Sosong hari Esok yang Penuh Misteri”. Pada suatu Hari Jaka Tarub sedang berburu di Hutan. Namun Jaka Tarub tidak mendapatkannya. Lalu tiba-tiba datang tujuh Bidadari dari atas bagian Panggung yang di setting seperti langit dan Bidadari itu turun dari langit . Lalu mereka turun untuk mandi ke bumi . Jaka Tarub mengintip di belakang semak-semak untuk melihat bidadari-bidadari mandi dia pun mengambil salah satu selendang biddari yang diletakan di atas batu. Selanjutnya Jaka Tarub dan Bidadari yang bernama Nawang Wulan pulang ke rumah untuk melangsungkan pernikahan seperti janji Nawang Wulan. Selanjutnya drama di sisipi dua lawak yaitu Tomo dan Topo yang sangat menghibur penonton . Dalam lawak tersebut ada banyak pelajaran yang dapat di petik. Tomo dan Topo adalah dua orang yang sedang berkampanye untuk mencalonkan lurah. Percakapn mereka seperti pelajaran menjalankan sunah tapi tidak menjalankan kewajiban dan hal-hal lucu lainnya. Seperti warga dan wargi mempunyai filosofi yaitu pada intinya walaupun individual tapi harus menjadi masyarakat yang baik. Namun di kemas dalam lawak khas Tomo dan Topo yang menghibur penonton. Guyonan tentang tes jasmani atau fisik menurut saya sangat bagus mengenai telinga kanan dan kiri harus sinkron . Pesan yang terkandung adalah tingkah laku manusia itu harus sinkron. Pandangan atau perspektif orang yang berbeda juga di bubuhkan di situ. Dalam sesi ini juga banyak celetukan-celetukan yang di layangkan kepada para calom pemimipin yng sedang marak di daerah- daerah di Indonesia. Pemimpin hakikatnya adalah melindungi, mengayomi dan mensejahterahkan warganya . Maka dari itu hal- hal seperti seleksi pemilihan wakil rakyat harusnya sangat ketat bukan hanya ketat uangnya . Indonesia tidak kurang orang cerdas tapi Indonesia minim orang Jjujur. Setelah drama Jaka Tarub selesei di lanjutkan dengan sesi Monolog Balada Sumarah yang di mainkan oleh Sri Minarti yang sangat Totalitas . Di mulai dengan seorang pemain yang berada di dalam kotak lalu tangannya menjulang ke atas. Bercerita tentang seorang Sumarah yang tidak pernah mendapatkan keadilan di negaranya sendiri karena ayahnya di pandang sebagai PKI . Sumarah selalu dibuai,di caci , di maki sampai dia meminta surat bersih pun tidak diterima . Dari hal ini ada pelajaran lagi yang dapat kita ambil adalah kebiasaan buruk masyarakat dan sistem pemerintahan kita tidak mudah memaafkan. Dalam monolog tersebut penderitaan-penderitaan yang di alami Sumirah sejak kecil sampai ia dewasa . Dia tidak pernah mendapatkan keadialan seharusnya salah satu wakil rakyat menonton drama tersebut agar mengerti suara mayarakat yang belum terealisasikan. Sumarah binti Sulaiman peraih NEM tertinggi di SMA yang tidak pernah mendapatkan keadilan di negerinya sendiri akhirya memimlih menjadi TKW di negeri Jiran berharap Negeri tetangga dapat mengubah nasibnya itu. Ijazah hanya di gunakan sebagai pencuci baju, tukang nyetrika dan pembantu atau budak bagi majikannya. Dia kembali merasakan penderitaan di negara orang . Nasib masih sama gajih nya selama seatahun hilang , beku dengan alasan tidak jelas majikannya. Sumarah selalu di siksa sampai di perlakukan tidak senonoh sumarah di perkosa. Sumarah pun geram sejak dulu dia selalu di anggap salah walaupun tidak bersalah. Akhirnya Sumarah nekad membunuh Tuannya . Ia mengaku salah iya ingin tahu rasannya salah yang ia rasakan walaupun ia tidak bersalah. Dia tidak akan menyewa pengacara karena uang pun tak punya . Sumarah siap di hukum mati. Ia tidak yakin bahwa keadilan negaranya pun akan membelannya. Karena dari dulu Sumarah sudah di campakan bangsanya sendiri . Monolog yang di bawakan oleh Sri Minarti sangat apik, luwes dsan menghayati . Saya pun sangat merinding dengan peran yang di persembahkan oleh Sri Minarti . Apalagi saat adegan peraih Nem tertinggi dan adegan di siksa oleh tuannya sungguh peran yang sangat bagus dan bukan sembarang monolog. Saya samgat mengapresiasinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar