Minggu, 18 Desember 2016
surat untuk pak naka :)
Assalamualaikum Wr.Wb
Selamat malam juga dosenku mata kuliah penulisan media masa Bapak Setia Naka Andrian yang tidak pernah kehabisan ide dalam menggoreskan karya-karyanya atau pun memberikan sejuta manfaat yaitu setumpuk tugas untuk mahasiswa-mahasiswanya.
Alhamdulillah hari-hari saya berjalan lancar pak, meskipun ada bebeapa kendala seperti di hantui berbagai tugas yang terus mengikuti dan berkecamuk agar segera saya seleseikan. Saya membalas surat dari Bapak Naka dalam keadaan lelah setelah pulang kuliah. Namun entah mengapa rangkaian kata-kata yang ada di dalam surat bapak membuat saya sumriah entah karena kata-katanya yang lucu atau karena memang pak Naka juga yang lucu.heheh.
Didalam surat ini saya akan berterus terang terang dengan pertanyaan-pertanyaan yang Bapak sampaikan . Begini Bapak bukannya saya pandai menutup-nutupi segala kekurangan ataupun mengurangi segala kelebihan yang pertama dipengearuhi faktor yang paling besar adalah malas, capek dan belum ada motivasi atau greget untuk membaca walaupun berbagai tulisan yang saya baca sering dikatakan kalau mahasiswa itu dibedakan dengan 1. Budaya Membaca, 2. Budaya Menulis dan yang terakhir adalah Buadaya Aksi atau berani menentang yang salah namun saya belum bisa menerapkan dalam kehidupan saya. Saya masih melakukan membaca sebagai hiburan saja.
Malas bicara sebenarnya mungkin bukan malas , tetapi ada banyak kendala seperti sulit merangkai kalimat untuk dikemukakan, lalu malu, kurang percaya diri, dan takut salah sudah down terlebih dahulu.
Didalam surat ini juga saya ingin meminta tips ataupun cara Kepada Bapak, supaya faktor atau kendala-kendala di atas bisa dihilangkan atau setidaknya bisa berkurang. Apa perlu dengan latihan apa saja mohon di jawab ya Pak? Dan bagaimana agar saya dapat menulis esay atau puisi yang setidaknya layak dibaca dan bernilai atau pun bermanfaat. Terima kasih.
Selanjutnya saya pribadi sangat berterima kasih kepada Bapak . Karena selalu memaksa untuk membaca, membeli buku, membaca koran yang tentunnya mempunyai manfaat dan kebaikan untuk saya dikemudian hari. Bapak juga tidak pernah bosan memberi tugas yang berkejubun yang jujur membuat saya sendiri sering mengeluh apalagi diberi batasan esai minimal 5000 karakter. Sungguh menyebalkan namun saya juga sadar itu demi kebaikan kami semua namun kami tidak tahu diri khususnya saya. Padahal Bapak sudah semaksimal mungkin supaya saya dan teman-teman mampu menulis dan mempunyai budaya membaca serta mau berbicara atau berpendapat dihadapan Bapak Naka. Terima kasih Bapak Naka . Anda adalah sosok dosen yang baik hati, tidak sombong dan suka menolong.
Pak Naka saya sadari saya belum mengetahui atau paham atas diri saya sendiri . Saya masih bingung sebenarnya apa potensi yang ada dalam diri saya . Saya suka membaca, saya senang menulis puisi ataupun crita namun mungkin saya sadari saya belum serius dan karena faktor malas yang menghantui. Jujur saya ingin seperti Bapak . Aktif , rajin menulis, pandai membuat puisi dan cerpen serta aktif berorganisasi.
Jika Bapak bertanya beberapa buku yang saya baca saya lupa. Namun bulan-bulan ini saya katakan saya sangat jarang membaca. Novel hanya novel dengan Judul Sempurn yang saya pinjam dari kaka tingkat saya. Lalu saya juga membaca buku Wira Nagara dengan judul “Distilasi Alkena” yang saya beli di gramedia. Namun saya banyak belajar di UKM yang baru saya ikuti yaitu vokal dan Organisasi eksternal yang program kerja nya setiap minggu kita berdiskusi mengenai buku atau pun film. Seperti malam kemarin kita berdiskusi buku dengan judul “Budaya Pesantren” yang bertempat di kolong perpus di temani UKM teakwondo yang sedang latihan di samping tempat kami berdiskusi.
Mungkin cukup sekian curhatan yang dapat saya sampaikan kepada Bapak.
Apabila ada kata yang tidak berkenan saya mohon maaf.
Wasalamuaiakum Wr.WB
Aulia Rahma Oktafiani
Aspirasi-aspirasi di Balik Pementasan Lawak Teater dan Sebuah Monolog
Aulia Rahmah Oktafiani/3D/15410145
Selasa04/10/2016 Pementasan yang di persambahkan oleh Teataer Gema UPGRIS dengan djudul Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah di Gedung Pusat Lantai 7. Dari pementasa tersebut bukan hanya mampu menghibur penonton tapi membuat penonton takjub dengan keberhasilan pemain mengusai naskah drama ataupun monolog. Menurut saya Teater Gema adalah UKM yang sangat maju di Universitas PGRI Semarang . Tidak hanya eksistensi dalam acara kampus tapi mereka juga selalu mengadirkan karya-karya yang perlu di acungi jempol. Teater yang di tayangkan pun memiliki ciri khas yang berbeda-beda . Pantas saja jika penikmatnya selalu bertambah. Seperti pementasan kali dengan djudul Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah.
Di awali dengan seorang ayah yang tidur di depan rumah dan terbangun sambil memangil nama anaknya dan belum siap untuk berpisah.
Selanjutnya kembali ke cerita awal tentang Jaka Tarub yang bermimpi menikahi bidadari dan bercerita kepada Kang Bowo. Dalam sesi ini Kang Bowo memberikan motivasi yang terkandung dalam drama tersebut adalah “Menatap Masa Depan Kaki yang Tegap Kita Sosong hari Esok yang Penuh Misteri”.
Pada suatu Hari Jaka Tarub sedang berburu di Hutan. Namun Jaka Tarub tidak mendapatkannya. Lalu tiba-tiba datang tujuh Bidadari dari atas bagian Panggung yang di setting seperti langit dan Bidadari itu turun dari langit .
Lalu mereka turun untuk mandi ke bumi . Jaka Tarub mengintip di belakang semak-semak untuk melihat bidadari-bidadari mandi dia pun mengambil salah satu selendang biddari yang diletakan di atas batu.
Selanjutnya Jaka Tarub dan Bidadari yang bernama Nawang Wulan pulang ke rumah untuk melangsungkan pernikahan seperti janji Nawang Wulan.
Selanjutnya drama di sisipi dua lawak yaitu Tomo dan Topo yang sangat menghibur penonton . Dalam lawak tersebut ada banyak pelajaran yang dapat di petik. Tomo dan Topo adalah dua orang yang sedang berkampanye untuk mencalonkan lurah. Percakapn mereka seperti pelajaran menjalankan sunah tapi tidak menjalankan kewajiban dan hal-hal lucu lainnya. Seperti warga dan wargi mempunyai filosofi yaitu pada intinya walaupun individual tapi harus menjadi masyarakat yang baik. Namun di kemas dalam lawak khas Tomo dan Topo yang menghibur penonton. Guyonan tentang tes jasmani atau fisik menurut saya sangat bagus mengenai telinga kanan dan kiri harus sinkron . Pesan yang terkandung adalah tingkah laku manusia itu harus sinkron. Pandangan atau perspektif orang yang berbeda juga di bubuhkan di situ. Dalam sesi ini juga banyak celetukan-celetukan yang di layangkan kepada para calom pemimipin yng sedang marak di daerah- daerah di Indonesia. Pemimpin hakikatnya adalah melindungi, mengayomi dan mensejahterahkan warganya . Maka dari itu hal- hal seperti seleksi pemilihan wakil rakyat harusnya sangat ketat bukan hanya ketat uangnya .
Indonesia tidak kurang orang cerdas tapi Indonesia minim orang Jjujur.
Setelah drama Jaka Tarub selesei di lanjutkan dengan sesi Monolog Balada Sumarah yang di mainkan oleh Sri Minarti yang sangat Totalitas . Di mulai dengan seorang pemain yang berada di dalam kotak lalu tangannya menjulang ke atas. Bercerita tentang seorang Sumarah yang tidak pernah mendapatkan keadilan di negaranya sendiri karena ayahnya di pandang sebagai PKI . Sumarah selalu dibuai,di caci , di maki sampai dia meminta surat bersih pun tidak diterima . Dari hal ini ada pelajaran lagi yang dapat kita ambil adalah kebiasaan buruk masyarakat dan sistem pemerintahan kita tidak mudah memaafkan.
Dalam monolog tersebut penderitaan-penderitaan yang di alami Sumirah sejak kecil sampai ia dewasa . Dia tidak pernah mendapatkan keadialan seharusnya salah satu wakil rakyat menonton drama tersebut agar mengerti suara mayarakat yang belum terealisasikan. Sumarah binti Sulaiman peraih NEM tertinggi di SMA yang tidak pernah mendapatkan keadilan di negerinya sendiri akhirya memimlih menjadi TKW di negeri Jiran berharap Negeri tetangga dapat mengubah nasibnya itu. Ijazah hanya di gunakan sebagai pencuci baju, tukang nyetrika dan pembantu atau budak bagi majikannya. Dia kembali merasakan penderitaan di negara orang . Nasib masih sama gajih nya selama seatahun hilang , beku dengan alasan tidak jelas majikannya. Sumarah selalu di siksa sampai di perlakukan tidak senonoh sumarah di perkosa. Sumarah pun geram sejak dulu dia selalu di anggap salah walaupun tidak bersalah. Akhirnya Sumarah nekad membunuh Tuannya . Ia mengaku salah iya ingin tahu rasannya salah yang ia rasakan walaupun ia tidak bersalah. Dia tidak akan menyewa pengacara karena uang pun tak punya . Sumarah siap di hukum mati. Ia tidak yakin bahwa keadilan negaranya pun akan membelannya. Karena dari dulu Sumarah sudah di campakan bangsanya sendiri .
Monolog yang di bawakan oleh Sri Minarti sangat apik, luwes dsan menghayati . Saya pun sangat merinding dengan peran yang di persembahkan oleh Sri Minarti . Apalagi saat adegan peraih Nem tertinggi dan adegan di siksa oleh tuannya sungguh peran yang sangat bagus dan bukan sembarang monolog.
Saya samgat mengapresiasinya.
Apatis atau Aktifis, Sumpah Pemuda Semakin Krisis
Aulia Rahmah Oktafiani/15410145/3D
Pertunjukan yang dipersembahkan lagi oleh teater gema dengan menggandeng UKM dan Ormawa-lemawa lainnya pada tanggal 28 Oktober 2016, bertempat di Halaman Gedung Utama Universitas PGRI Semarang dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pertunjukan dibagi menjadi dua sesi yang pertama adalah pertujukan parede orasi dari mahasiswa mengenai sumpah Pemuda dan harapan-harapannya untuk mahasiswa kedepannya dibarengi dengan beberapa mahasiswa yang memainkan Tablo yang menggambarkan tentang Sumpah Pemuda.
Menengok sejarah Sumpah Pemuda memiliki arti yang sangat penting . Pada tanggal 28 Oktober 1928 ketika negara Indonesia masih menggunakan kesukuan dan kedaerahan maka Sumpah Pemuda yang diikrankan pada saat itu berhasil menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme serta yang terpenting adalah menyatukan bangsa Indonesia yang berbeda-beda namun tetap sama (Bhineka Tunggal Ika) dari Sumpah Pemuda sebagai tonggak dan pondasi lahirnya Indonesia. bertumpah darah satu,berbangsa satu dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Dengan berkembangan zaman dan arus globlalisasi muncul masalah yang rumit dengan lahirnya para mahasiswa yang apatis. Selain itu juga lahir mahasiwa aktifis tetapi bukan seperti para pemuda dulu yang turu kejalan tetapi mempunyai solusi masalah tidak seperti sekarang yang hanya bisa memaki tanpa memberi polusi.
Mahasiswa adalah sayap kanan bangsa ,penggerak perubahan Indonesia . Pada awal Indonesia mengalami inflasi para pemuda lah yang berani turun ke jalan menyapaikan ansipirasi rakyat mereka para perindu kemenangan dan kesejahteraan.
Namun yang sangat disayangkan adalah tingkat mahasiswa apatis atau lebih sering di sebut kupu-kupu lebih banyak di banding mahasiswa yang masih peduli atau aktif terhadap negara. Contohnya mereka lebih suka dengan dunia globlalisasi seperti belanja di banding membeli buku . Mencari informasi membuat karya karena mahasiswa di bedakan karena tiga hal yaitu membaca, menulis dan berani aktif bukan hanya berfoya-foya mengahabiskan uang saku dari orang tua dengan hal yang tidak bermakna dan tidak ada manfaatnya.
Sumpah pemuda sebagai pemersatu bangsa tampaknya sudah mulai krisis dan terkikis dengan terjadinya bentrokan atau perang dingin antar organisasi kecil atau bermain hal yang tidak sehat, atau antar kampus bahkan antar agama padahal mereka telah bersumpah bahwa tanah air satu, bersumpah darah satu dan berabahasa satu namun sumpahnya tidak bisa di buktikan.
Sesi kedua adalah parede budaya dari UKM Teater Gema dengan hal kreatifitasnya yang menarik. Dari contoh tersebut kita sebagai mahasiwa harus mencontoh kepada para aktifis kampus yang mendominasi hal positif dengan merayakan dan menghormati perjuangan sejarah pemuda Indonesia. Dari hal ini dapat membantu membentuk karakter para pemuda dengan dibiasakan hal positif dan akan masuk dunia pers pun bukan hal negatif yang di terbitkan. Selain itu dapat mengembalikan hal seharusnya yang ditetapkan atau kriteria sesungguhnya seorang mahasiswa. Seorang siswa dengan tingkat tertinggi yang mampu membawa perubahan.
Pada saat sesi kedua yang di mulai puku 19:00 juga tampil beberapa UKM seperti UKM Gisma Choir yang bernyanyi dengan kolaborasi UKM Immortal Universitas PGRI Semarang benar-benar penampilan yang indah dan memukau.
Halaman Gedung Utama seakan dibanjiri penonton yang ingin menyaksikan malam puncak Hari Sumpah Pemuda.
Selain itu Universitas PGRI semarang juga dalam rangka acara puncak perayaan Bulan Bahasa Universitas PGRI Semarang dengan penampilan tari kreasi yang dikuti oleh 28 peserta dari fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni . Hal itu merupakan pembentukan karakter dan suntikan identitas mengenai seni budaya Indonesia agar mereka tidak lupa dengan warisan bangsa walaupun tetap mengikuti arus zaman.
Dengan adannya kebiasaan positif yang diberikan kepada pemuda merupakan pembelajaran agar mereka siap mengahadapi persoalan-persoalan yang di hadapi bangsa ini. Membenarkan hal-hal yang masih salah dalam seperti KKN (korupsi,kolusi, dan nepotisme) dengan aksi turun kejalan menyampaikan aspirasinya. Kembali membuktikan sumpahnya mengenang ,memahami makna yang terkandung dalam ikrar sumpah pemuda. Ketika para pemuda membuang egonya , bersatu demi bangsa dan negaranya. Indonesia adalah negara dengan perkembangan pemudanya yang sangat baik. Sudah semestinya tugas pemuda untuk menjadi agen sosial, penerus,pengontrol dan hal apa saja yang ada di bangsa ini. Sehingga bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kuat dan kembali dipuja-puja bangsa lain. Seperti pada liri lagu tanah air beta. “selalu dipuja-puja bangsa”.
Menguntip kalimat dari Bapak presiden kita , kata-kata yang sangat bijak untuk motivasi pemuda-pemuda bangsa ini “ Perjuanganmu jauh lebih berat, perjuanganku melawan penjajah ,sedangkan perjuanganmu melawan bangsamu sendiri” dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa bangsa ini membutuhkan pemuda-pemuda yang berkarakter,berkomitmen dengan janji dan sumpahnya.
Aulia Rahma Oktafiani, Mahsiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang. Pencinta,Perindu,dan Penikmat Senja.
Resensi
Gema Teater yang Menggelegar
Menanggapi esai yang ditulis Sari Otavia dalam rangka membuat tanggapan yang di tunjukan untuk Seni “Pemetasan Teater Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah”. Pementasan tersebut adalah persembahan dari UKM Gema Universitas PGRI Semarang yang tak pernah kehabisan ide kreatifnya dengan segudang skenario yang mampu menghibur para penonton.
Didalam esai tersebut Sari Otavia memberi judul esainya “Teater yang Menggema” saya setuju dengan judul tersebut karen teater tersebut begitu menggema bukan hanya dari pemainnya yang menggema tetapi juga dari banyaknya penonton yang terhibur juga ikut menggema. Seperti nama teater tersebut Teater Gema. Namun disini saya hanya menambahkan sedikit dari pementasan tersebut tidak hanya menggema tapi juga menggelegar karena pertunjukan tersebut mampu menghibur dan menghipnotis penonton yang datang. Tentunya Teater Gema telah mempersiapkan sedemikian rupa dari setting panggung yang sangat kreatif dan menarik.
“Pementasan Teater Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah” disajikan dalam dua kali penayangan yaitu sesi sore pukul 16:00 dan sesi malam atau sesi kedua pukul 19:00. Esai yang ditulis Sari sangat terperinci dia menceritakan kembali drama yang dia tonton namun lebih ringkas dan hanya inti-intinya saja. Seperti saat Pemuda Jaka tarub yang menikahi seorang bidadari. Namun sedikit menmbahkan yang di tulis sari kembali kurang jelas karena tidak di sebutkan dahulu prolog dari pentas Jaka Tarub dan bagaimana alurnya masih kurang jelas contohnya Sari menulis seperti “Pentas Jaka Tarub menceritakan tentang kisah seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub Seorang Bidadari bernama Nawang Wulan.” tapi sudah bagus karena dari esai tersebut juga di ceritakan bagaimana ending ceritanya. Sari menyebutkan dari pementasan tersebut banyak pesan moral yang dapat diambil seperti bagaimana mengemas pertunjukan itu,pesan moral apa saja yang dapat dipetik dan penataan panggung serta faktor pendukung lainnya. Akan lebih baik jika pesan moral dan penataan lebih dideskripsikan lagi supaya lebih berisi dan lebih jelas untuk dipahami.
Selain pertunjukan teater juga seperti judul dari pementasan tersebut juga menampilkan Monolog Balada Sumarah yang berhasil memenangkan lomba PEKSIMIDA tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jawa Tengah ke tingkat Nasional. Dalam episod monolog Sari Otavia lebih detail dalam mendiskripsikan esainya . Sumarah adalah seorang anak perempuan yang dituduh dari seorang anak PKI dan tidak pernah mendaptkan keadilan di Negaranya tersebut karena hal itu. Akhirnya Sumarah memutuskan untuk ke Negeri Arab menjadi Tenaga Kerja Wanita dan berharap menjadi TKW mampu mengubah nasibnya agar memperoleh keadilan dan kesejahteraan. Tetapi memang nasib malang Sumarah yang ia harapkan semua sirna semuanya tidak sesuai harapannya. Dia kembali mendapatkan perlakuan yang tidak etis,disiksa,di tuduh dan sampai di perkosa . Gajih Sumarah juga dibekukan majikannya dengan alasan yang tidak jelas. Jujur pada saat adegan yang dimaikan oleh Sumrah saya menambahkan sedikit sangat membuat merinding . Penampilan dari Pemain Sumarah sangat totalitas dan mampu membuat penonton merinding tentunnya. Walaupun akhirnya Sumarah marah dan memilih untuk membunuh majikannya tersebut dan dia mengaku salah. Namun dari esai tersebut sari kurang mengemas kata-kata dan kalimat-kalimat tersebut karena ceritanya kurang runtut dan menjadi kurang menggugah selera.
Singkat cerita dari Pentas Monolog dan berakhir juga pementasan Sari juga Mengulasnya Monolog Balada Sumarah seperti kehidupan nyata yang kerap terjadi. Saya sangat stuju karena tentunya menurut saya si sutradara membuat naskah teks monolog tersebut dengan kejadian yang ada di Indonesia hanya saja di bumbuhi dengan imajinasinya. Seperti yang di sebutkan Sari Otavia TKI atau TKW asal Indonesia banyak yang di hakimi semena-mena tanpa mendapat perlindungan dan HAM di negeri orang.
Dari drama tersebut Sari menulis bahwa Pemerintah sangat Ironis dengan membiarkan masyarakatnya yang menjadi TKW dan TKI yang mendapat kesulitan tapi dibiarkan saja. Dari hal ini merupakan sindiran-sindiran yang dilayangkan kepada pemerintah untuk memberi keadilan kepada mereka yang membutuhkan. Karena dari banyaknya kasus yang ada mengenai dan penyiksaan sampai pembunuhan TKW/TKI hanya satu ,dua yang di selesaikan pemerintah dengan cara damai lainnya hangus ,hilang ditelan masa.
Sari otavia memberikan tanggapannya setiap drama atau teater disajikan secara runtut apik dan berkesan bagi penikmatnya. Tidak hanya itu menurut saya pertunjuka tersebut juga seaakan membuat panggung Gedung Pusat Lantai 7 yang disetting sedemikian rupa seakan ikut bergetar dan menggelegar dengan adanya pertunjukan tersebut. Penampilan tersebut dapat bagus tentunya di latih serta di dukung dengan perjuangan dari para pemain dan crew yang tak pernah lelah dalam latihan,kerja sama antar perlengkapan dan lain sebagainya. Sari otavia menyebutkan dalam esainya bermain peran mampu melatih kecerdasan,intelektual, cepat tanggap,imajinatif,kreatif,ketrampilan dan mengapresiasi hasil karyanya tentunya juga bermanfaat serta mampu menghibur penontonnya yang datang dari berbagai prodi khusunya PBSI dan tamu dari pecinta taeter lainnya.
Aulia Rahma Oktafiani Mahasiswa Pendidkan Bahasa dan Sastra Insonesia , Universitas PGRI Semarang. Pecinta dan Perindu Senja di kota Atlas.
Esai
Banyak pihak sangat menyayangkan terhadap tindakan pemalsuan vaksin yang sementara ini peredarannya dikendalikan oleh tiga produsen, yakni Agus, Syariah, serta pasanga suami-istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Hingga saat ini semua tersangka masih dikenai tindak pidana pencucian uang. Penyidik melacak semua aset tersangka. Selain itu, semua tersangka juga dikenai pasal berlapis karena melanggar Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Kejadian keji ini begitu menggetarkan seantero dada para orangtua di negeri ini, lebih-lebih bagi para ibu yang setiap waktu ingin selalu memberikan yang terbaik untuk kesehatan dan pertumbuhan buah hatinya. Segalanya pasti akan siap dikorbankan untuk kebutuhan kesehatan anak-anaknya. Beberapa waktu ini pun begitu ramai di berbagai media sosial, semua orang seakan mengecam tindakan yang dilakukan para pemalsu vaksin tersebut. Seperti halnya Change.org Indonesia pun dengan lantang melayangkan petisi dengan seruan, “@KemenkesRI @NilaMoeloek Selamatkan nyawa Balita Indonesia, Usut Tuntas #VaksinPalsu!”
Petisi tersebut berisi, 1) Mendukung penyidikan kasus ini, meminta agar POLRI dapat membasmi secara tuntas tindakan pemalsuan vaksin dan mendukung penindakan yang tegas pada para pelaku. 2) Meminta Pemerintah, Bareskrim dan pihak berwenang lainnya untuk menarik semua vaksin yang saat ini beredar dan menggantinya dengan vaksin yang ASLI dan AMAN guna menjamin keamaan dan perlindungan kesehatan bayi-balita Indonesia. 3) Meminta Pemerintah, Bareskrim dan pihak berwenang lainnya untuk mengumumkan nama-nama distributor, Rumah Sakit, Klinik atau tempat kesehatan lainnya yang terindikasi dan/terbukti menggunakan vaksin palsu. 4) Mendorong Pemerintah untuk melakukan vaksin ulangan terhadap anak-anak yang lahir antara tahun 2003 – 2016 guna menjamin generasi indonesia yang sehat dan bebas penyakit berbahaya. 5) Mendorong BPOM untuk lebih agresif dalam mengawasi dan memfilter distribusi vaksin dan obat-obatan pada umumnya.
Minggu lalu di Nusa Dua, Bali (26/6), Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan, anak balita yang telah mendapatkan vaksin palsu perlu diimunisasi ulang. Sebab di tubuh mereka tak terbentuk kekebalan. Imunisasi ulang pada anak usia 10 tahun dimungkinkan. Yang pasti, segala ini sangat tidak dibenarkan, karena menyangkut keberlangsungan kesehatan bagi anak-anak yan tentunya merupakan generasi penerus bangsa dan negara ini. Lebih-lebih hingga saat ini 194 negara menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat untuk mencegah sakit berat, wabah, cacat dan kematian akibat penyakit berbahaya. Melalui imunisasi yang lengkap dan teratur dimasukkan ke dalam tubuh bayi-balita, maka akan timbul kekebalan spesifik yang mampu mencegah penularan, wabah, sakit berat, cacat atau kematian akibat penyakit-penyakit tersebut. Setelah diimunisasi lengkap, bayi-balita masih bisa tertular penyakit-penyakit tersebut, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya, dan jarang menularkan pada bayi-balita lain sehingga tidak terjadi wabah.
Ini sebuah kasus yang tidak boleh disepelekan begitu saja. Pemerintah memberi perhatian khusus. Pihak-pihak yang berwenang harus mengusut hingga tuntas. Bahkan hingga saat ini, (Kompas, 28/6) polisi telah menetapkan 15 tersangka di sejumlah kota, seperti Jakarta, Tangerang Selatan (Banten), Subang dan Bekasi (Jabar), serta Semarang. Polisi juga memeriksa 18 saksi dari rumah sakit, apotek, toko obat, dan saksi yang terlibat dalam pembuatan vaksin palsu. Hasilnya, terungkap empat rumah sakit di Jakarta serta dua apotek dan satu toko obat di Jakarta terlibat peredaran vaksin palsu. Bayangkan saja, yang lebih mengerikan lagi ternyata tindakan pemalsuan vaksin ini telah dilakukan sejak tahun 2003, maka dapat kita ungkap bahwa sindikat pemalsu vaksin ini telah beroperasi selama 13 tahun dan telah tersebar ke beberapa daerah di Indonesia.
Sungguh sangat mengerikan, beberapa itu baru yang ditemukan, lalu bagaimana dengan yang masih aman, yang masih beroperasi mengedarkan dan mengonsumsi vaksin-vaksin palsu. Bagaimana nasib anak-anak di negeri ini, yang seharusnya sangat membutuhkan kekebalan untuk mencegah sakit berat, wabah, cacat dan kematian akibat penyakit-penyakit berbahaya. Umpatan, kutukan, tangis, bahkan doa-doa buruk bermunculan dari para ibu kepada mereka para pelaku. Sepertinya, jika melihat kasusnya yang tidak hanya penipuan semata, tidak hanya pemalsuan semata, namun sudah menyangkut keselamatan banyak nyawa. Kasus ini pun sudah sangat direncanakan, secara tidak langsung inilah perencanaan membunuh, tidak hanya nyawa seorang, namun nyawa dari jutaan orang, jutaan generasi penerus bangsa dan negara ini. Maka, belum adil jika para pelaku hanya mendapatkan hukuman mati saja. Apalagi hanya dipenjara puluhan tahun, atau hanya didenda saja. Semoga hukum ditegakkan setegak-tegaknya untuk kasus ini. Semoga dan semoga.***
Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Penulis Buku Puisi Perayaan Laut (April 2016).
Reaksi:
|
Langganan:
Komentar (Atom)