Tentang Senjaku di Kota Atlas
Semarang, 01 Oktober 2016
Tut...tut..tut...
Jarum jam sudah
menunjukan pukul 16:30 WIB. Kereta yang kutumpangi sudah berhenti di Stasiun
Poncol. Hujan deras mengguyur Semarang. Aku masih duduk di tempat dudk stasiun
poncol sambil menikmati teh hangat yang barusan kubeli sambil sesekali mengecek
hp untuk menunggu balasan pesan yang kukirim untuk Senja.
|
|||
|
|||
Aku hanya
tersenyum tak kubalas pesan dari senja. Sambil mendengarkan musik . Sore ini
memang tak begitu bersahabat tak bisa kulihat indahnya senja dikota ini. Namun
aku juga menyukai hujan karena tiap tetes hujan yang jatuh ke tanah aku sangat
menikmatinya dan bagiku sangat menenangkan.
Aku sangat
menyukai hujan, namun satu hal yang tak kusuka dari hujan di sore hari adalah
ketka senja tak terlihat lagi.
Lima belas menit
kemudian datang seorang pemuda memakai jas hujan warna hitam . Aku memanggilnya
dengan suara agak keras “senja” . Dia menoleh dengan berjalan cepat kearah ku
sambil tersenyum “maaf ya ma, lama ya, ini mantelnya dipakai dulu”
Senja memberikan
jas hujan kepadaku. Aku berbisik kepada “hujan-hujan an yum”. Namun sayang dia
menolak, senja bilang takut aku sakit padahal aku sangat suka hujan-hujan an.
Kami berjalan
menuju parkiran. Perjalanan pulang aku hanya diam dibelakang pertanyaan senja
tak jawab.. Tiba-tiba senja memegang tanganku “putri alis gundul jangan marah
dong hehe”. Aku hanya diam alis gundul adalah panggilan yang senja berikan
untukku. Sedangkan aku memanggil senja dengan sebutan alis bulu.
*****
Senja mengantarku
sampai depan kosku. Senyumnya sungguh manis lalu dia berpamitan pulang “udah
dong putri jangan marah, besok deh pas aku balapan trek ujan-ujanan janji”
sambil mencubit pipiku . “iya iya janji ya “ sahutku dengan nada ketus”. Senja
hanya mengangguk sekaligus berpamitan pulang. Aku hanya bisa memandan motor
scoopy yang tak terlihat lagi.
Teman sekosku
begitu aku sampai langsung berayahan berebut oleh-oleh yang ku bawa dari rumah.
Malam ini selesei
aku mengerjakan tugas, aku memilih untuk istirahat. Aku tak bisa mengelak lagi
kalo aku masih menyukai senja. Namun tiba-tiba ammah dan ria menggagetkanku
“woiii ngelamun terus, ngelamunin sapa hayo”. Aku lumayan kesal namun aku
memang sudah sangat terbuka dengan mereka , aku ceritakan semua kepada mereka .
Tapi mereka kembali membuatku kesal mereka malah menggodaku. “cie senja cie pj
pokoknya” sahut ria dan ammah menggodaku. Saking kesalnya kuputuskan untuk
tidur.
****
Pagi itu aku sudah
bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Aku memekai baju coklat polos dengan
dipadukan dengan celana jeans dengan kerudung coklat bermotif kupu-kupu.
Saat kubuka
gerbang terlihat seorang pemuda agak kebingungan duduk diatas motor beat putih,
lalu aku berjalan menghampirinya “cari siapa ya mas” tanyaku.
“cari amah mba,
mau ambil baju batik kelas. Bisa tolong panggilin mba” jawabnya .
Aku memnaggil
ammah agar segera keluar karena ditunggu temannya.
Diruang kelas
Gedung A 405 kepalaku sangat pusing, akhir-akhir ini aku merasa kalau perutku
sering sakit. Namun semuanya hanya kuanggap sepele menurutku hanya sakit maghku
yang kambuh. Kuliahku selesei pukul 16:20 WIB. Aku berjalan dengan sari,
firda,novia dan anita. Kepala semakin pusing seperti ada sesuatu di kepalaku.
Aku memutuskan
untuk kegedung PKM untuk piket basecamp namun seketika
Bruk.... Aku
merasa badanku ditopang seseorang yang ada dibelakangku.
Aku masih tersedar
“kamu gapapa” kata dia samar-samar kudengar namun tubuhku ambruk dan
dibopongnya. Aku tersedar pemuda itu samar-samar masih disampingku. Rasanya aku
tidak asing dengannya. “kamu udah gapapa? Kamu temennya amahkan yang tadi pagi,
namaku awan kamu siapa” tanya sambil tersenyum ramah dan memberikanku satu
gelas teh hangat. Aku menjawab dengan suara lirih “iya mas, ini masnya yang
tadi pagi kan? Nama saya bintang , makasih ya mas awan sudah menolong saya”
awan hanya mengangguk . Dia mengantarku
sampai kosku, aku mengucapkan banyak terima kasih kepadanya.
|
Aku sedikit lega
mendapat pesan itu, setidaknya senja tidak lupa memberikan kabar meskipun aku
bukan pacar senja. Heheh.
****
Sore ini aku ria,
ammah dan mba yeni bergegas menuju gor jatidiri untu jogging sebenarnya
aku berniat mengajak senja. Namun dia tidak
kunjung membalas akhirnya aku tetap berangkat dengan teman-teman
sekosku.
Aku baru mengelilingi lapangan satu kali namun
rasanya sudah sangat lelah padahal biasanya aku kuat sampai tiga kali. Aku
memutuskan untuk istirahat. Teman-temanku masih bersemangat untuk jogging . Apalagi
si ria dia sedang diet ketat supaya bisa masuk audisi modeling. Seorang laki-laki
dengan keringat bercucuran duduk disampingku “hai tang” sapanya. “eh awan hey
juga” sahutku . Kami mengobrol sejenak sampai akhirya hari mulai sore dan kami
memutuskan pulang.
Malam ini aku
sudah menata baju di tas ranselku karena besok aku akan menemani senja
perlombaan trabas di kebumen. Senja memang sangat senang dengan dunia otomotif
dan balap.
Pagi itu aku
sangat senang bisa menemani senja untuk lomba namun aku tidak tau bahwa hari
itu akan menjadi awal petir yang menyambarku.
Senja sudah mulai
latihan di sirkuit. Aku hanya tersenyum memadang senja yang sedang latihan. Dia
punya banyak kenalan perempuan disini . Sedikit panas ketika teman-teman
perempuan mulai mengerubungi senja. Namunn tiba-tiba dia menghampiruku “hey
putri alis gundul, bergigi gingsul, gimana latihanku keren ga” . “keren banget bosqoe” sahutku sambil kuacak rambut
senja.
Matahari mulai
naik jarum jam sudah menunjukan pukul 08:00 WIB. Artinya sebentar lagi
perlombaan akan dimulai aku duduk disebelah senja. Kupegang tangannya “kamu
semangat ya, kamu ga boleh kenapa-napa” entahlah perasaanku mulai campur aduk.
Senja makin erat mengenggam tanganku “aku janji ma, aku sayang kamu” seketika
jantungku berdegup kencang ternyarta apa yang dirasakan senja sama denganku.
Air mataku menglir bercucuran rasanya bahagia juga campur aduk.
Diputaran pertama
senja masih memimpin. Aku tetap berdoa perasaanku entah rasanya ada yang
mengganjal. Seketika awan mulai mendung namun perlombaan tetap dilanjutkan.
Begitu sampai putaran ke tujuh . Motor croos nomer enam belas tiba tiba oleng
dan terjatuh serta ditabrak pembalap belakangnya. Terjadi kecelakaan beruntun.
Tim evakuasi langsung membawa korban ke RS terdekat. Perjalan ke Rumah Sakit
aku hanya bisa menangis sambil berdoa. Kondisi Senja kritis, dan Tuhan
berkehendak lain senja tak tertolong. Hari itu ketika aku tahu kalau Senja
punya perasaan sama denganku hari itu juga aku harus kehilangan senja. Seperti
tersambar petir air mata ini masih mengucur deras. Tim balap senja masih
menenangkanku.
****
Hari ini adalah
hari wisudaku. Tepat Setahun setelah kepergian senja aku masih selalu menangis
setiap kali aku melihat Senja sore. Seakan Senja sedang menyapaku agar aku
tetap tegar. Semenjak kematian Senja aku sangat membenci hujan . Karena
Hujan membuat Senjaku tak pernah tampak. Aku berjalan maju untuk
menyematkan toga wisudaku dan memakai selempang bertuliskan Cumloude.
Keluarga awan ikut hadir diacara wisudaku. Awan telah resmi melamarku tepat
satu bulan lalu, dan kami akan berencana akan menikah ketika aku dan awan telah
lulus S2. Namun satu hal yang tak pernah bisa aku hilangkan adalah hatiku masih
milik Senja. Masih tetap untuk Senjaku di Kota Atlas
Aulia rahma oktafiani gadis dengan tubuh mungil yang sangat menyukai tiga
hal senja,bintang dan hujan. Dia adalah penikmat dan perindu senja. Dan pecandu
hujan , serta pemuja bintang dimalam hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar