Selasa, 27 Oktober 2015


NAMA            : AULIA RAHMAH OKTAFIANI
NPM    :15410145
KELAS           :1D





Wayang Kampung Sebelah
Ulasan wayang “MAWAS DIRI MENAKAR BERANI”


Pertunjukan wayang yang diselenggarakan oleh fakultas FPBS ini , yang di gelar pada hari selasa,20 Oktober 2015 , pukul 09 :00 di gedung balairung Universitas PGRI Semarang yang dihadari oleh Bapak rektor dan Ketua YLPP  Universitas PGRI Semarang yang dibawakan oleh dalang Ki Jhilteng Suparman membawakan cerita berjudul “Mawas Diri Menakar Berani”.
Seni pewayangan yang di bawakan oleh dalang Suparman seni wayang yang sudah menggunakan peralatan modern dari alat musik nya perpaduan alat musik modern dan klasik, dari jenis wayang juga menggunakan nama orang biasa bukan wayang dari Mahabharata ataupu Rhamayana. Cerita wayang juga menceritakan kehidupan sosial yang diselingi dengan lagu-lagu yang dibawakan sinden dan satu orang laki- laki.

Pertunjukan dimulai dengan menampilkan seorang yang bernama Klungsur sedang berkampanye kepala desa dengan argumentnya yang menggunakan bahasa intelektual tetapi sulit dimengerti.
Selanjutnya dilanjutkan babak pemilu yang menampilkan seorang kakek yang bernama eyang Sidhik Wacono yang sedang mencari papan perhitungan suara pilkada yang hilang, lalu kakek sidhik bertanya kepada Parjo selaku kepala keamaamanan namun dia tidak tahu. Begitu pun dengan Sodrun malah salah presepsi di kira ia malah jadi biang keroknya. Ternyata papan perhitungan suara di simpan oleh Suto Coro yang menjabat sebagai kepala rumah tangga keluruhan karena itu adalah kewajibannya .
Terjadilah perdebatan sengit antara eyang Sidhik dan Suto Coro.
Parjo memberikan hasil suara kepada eyang Sidhik yang berurusan papan tulis dengan suto.

Pemilu dimenangkan oleh Somad. Setelah pengumuman Sidhik meminta Somad menanda tangani kabar berita acara sebegai pemenang pilkades, secara tersamar eyang Sidhik meminta uang bonus kepada Somad. Lalu somad memberi uang kepada eyang Sidhik 30 juta . Tetapi mengatakan kepada parjo 3juta, parjo mengatakan kepada Sudrun 300 ribu.itulah korupsi indonesia yang sudah terbibit.
Dilain tempat Karyo dan Kampret sedang mebicarakan kemiskinaan . Karyo bercerita tentang kemiskinaan yang dialaminya. Kenapa pemerintah tidak bertindak karena orang miskin lah yang dijadikan aset alasan dalam pencairan dana milik pribadi jadi rakyat kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Setelah itu mereka berdua pergi kerumah lurah Somad yang mendatangkan artis-artis lokal maupun inter lokal sebagai kemenangan lurah Somad.

Selanjutnya adalah babak perayaan kemenangan Somad sebagai kepala desa yang menampilkan artis seperti ro mari-mari, Syahmarni, Bob marni dan juga Minul sebagai hiburannya, setelah itu tiba-tiba jhoni naik dan meminta acara hiburan itu dibubarkan.
Jhony mengencam bahwa lurah somad penuh dengan kecurangan dan memprotes kemenangan tersebut. Jhony berkata “apa jadinya desa Bangun Jiwo dipimpin oleh Lurah yang melakukan kecurangan. Apalagi saat menjabat pasti lebih banyak kecurangan dan rakyat pun akan semakin sesangsara. Jhony mempengaruhi masa dengan kalimat argumentnya, sedari itu kampret yang sedang mabok memprotesnya. Kampret merasa terusik oleh Jhony . Ia pun meminta jhony untuk turun agar acara hiburan segala dilanjutkan. Tetapi Jhony tidak terima ia merasa bahwa Kampret adalah pendukung Somad. Lalu mereka berdua saling berkelahi diatas panggung.
Dengan senyum sinis Kampret bahwa dirinya adalah sang pemabok netral. Jangan fanatik dia adalah seorang golput. Kampret menuduh bahwa Jhony semangat demo karena dibayar. Sama dengan Pak Klungsur dan Pak Somad orasinya demi uang tidak jujur.
Perkelahian Jhony dan Kampret membuat tawur massa.
Setelah itu Karso teman Kampret yang seorang miskin mendatangi rumah polisi gendut .
Mbah modin , pak Somad dan Parjo yang sedang memantau di lokasi tawuran.
Karyo pun langsung nyemprot kepada ke tiga tokoh tersebut kenapa tidak melakukan tindakan apa - apa.

Lalu Kampret muncul di belakang Karyo seraya berkata “itulah demokrasi kita mereka adalah orang- orang yang ingin pada situasi aman tetapi enggan mengamankan, demokrasi negara kita itu tidak mempermudah tapi mempersulit”.
Dapat di logika para pejabat itu tidak mau menaggung pekerjaan beratnya tetapi memilih menghindar itulah ciri pejabat yang tidak bertanggung jawab. Oleh sebab itu kita harus mawas, berfikir cerdas memilih pemimpin yang bertanggung jawab, berintegritas , jujur , adil dalam bertindak dan adil dalam menananggung kekuasaan.
Oleh sebab itu bangsa yang maju karena pemimpin dan masyarakat nya mampu menanggapi dan berfikir kritis dalam memilih calon pemimpin yang baik.

Indonesia 50 tahun yang akan datang dibutuhkan oleh masyarakat dunia .
Konsekuensinya Indonesia harus berbagi agar orang di seluruh dunia tidak berebut sumberdaya Indonesia seenaknya . Untuk itu kita harus membenahi pemimpin, rakyat, dan kedaulatan yang disebut Tri Sakti. Kita harus lebih Mawas diri seperti judul wayang tersebut “Mawas Diri Menakar Berani” untuk terwujudnya Indonesia emas 50 tahun kedepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar